17 Tata Cara Shalat Bagi Orang Sakit

By | 15 April 2019

Farhan21.com – Pada kesempatan ini admin akan membagikan pengetahuan mengenai 17 tata cara shalat bagi orang sakit dari kitab Al-Mabhatsus Saadisuwal ‘Isyruun : Shalaatul Mariidh ( Juz-un min Shalaatil Mu’min ).

Berikut 17 tata cara shalat bagi orang sakit :

1. Seorang yang sakit wajib shalat Fardhu sambil berdiri, jika ia tidak takut sakitnya akan bertambah parah.

2. Jika ia mampu untuk berdiri dengan bertopang kepada tongkat atau bersandar ke dinding, atau berpegang kepada seseorang di sampingnya, maka ia wajib berdiri.

3. Jika ia mampu bediri, meskipun agak bungkuk, mendekati posisi ruku’, seperti orang yang bongkok atau telah berusia lanjut, di mana punggunya condong ( ke depan ), maka ia wajib berdiri.

4. Jika ia mampu bediri, tapi ia tidak bisa ruku’ atau sujud, maka kewajiban untuk berdiri tidak  gugur baginya. Ia wajib berdiri dan ia ruku’ sambil berdiri, yaitu cukup dengan isyarat.

5. Jika penyakitnya jelas -jelas bertambah parah dengan berdiri, atau ia sangat kesulitan jika berdiri, atau berdiri dapat membahayakan dirinya, atau ia khawatir penyakitnya akan bertambah parah, maka ia diperbolehkan shalat sambil duduk.

6. Yang utama bagi orang sakit apabila ia shalat sambil duduk adalah duduk sila di tempat di mana ia berdiri. Yang shahih ( benar ) adalah ia ruku’ sambil duduk sila, karena ruku’ itu asalnya dari posisi berdiri.

7. jiak ia tidak mampu duduk, maka ia shalat sambil berbaring dengan wajah menghadap kiblat. Yang utama adalah shalat dengan meletakkan lambung kanannya de tempat shalat.

8. Jika ia sakit tidak mampu shalat sambil berbaring, maka shalat sambil terlentang, dengan dua kaki di arah kiblat.

9. Jika ia sakit tidak mampu shalat sambil menghadap kiblat, dan tidak ada orang yang menghadapkannya ke kiblat, maka ia shalat dalam keadaaan menghadap ke mana saja.

10. Jika ia tidak mampu shalat dengan terlentang, maka ia shalat dalam keadaaan apa pun.

11. Apabila ia tidak mampu shalat dengan keadaan – keadaan yang telah dijelaskan tadi, maka ia shalat dengan hatinya. Ia takbir, membaca ( al-Faatihah dan ayat al-Qur-an lainnya ), dan ia niat ruku’, sujud, berdiri, dan duduk dengan hatinya.

12. Jika si sakit di tengah shalatnya mampu untuk melakukan apa yang sebelumnya ia tidak mampu – seperti tiba – tiba ia mampu untuk berdiri, ruku’, sujud, atau isyarat maka ia harus beralih melakukan apa yang ia mampu saat ini, dan ia melanjutkan shalatnya ( tidak usah mengulang lagi dari awal ).

13. Jika si sakit tidak dapat sujud ke tempat sujud, maka ia isyarat untuk sujud tanpa meletakkan kepalanya ke lantai. Juga tidak harus menyimpan sesuatu di tempat sujudnya agar ia dapat sujud padanya.

14. Orang yang sakit wajib melaksanakan shalat pada waktunya.

15. Bagaimanapun keadaannya, seorang yang sakit tidak boleh meninggalkan shalat, selama akalnya masih ada.

16. Jika seorang yang sakit meninggaljan shalat karena tertidur atau lupa, maka ia wajib melakukannya di saat ia terbangun atau ingat. Ia tidak boleh menundanya hingga masuk waktu shalat yang semisal dengan shalat yang tertinggal tersebut.

17. Jika seorang yang sakit melakukan perjalanan untuk shalat berobat di luar negeri, maka ia mengqashar ( meringkas ) shalat yang empat raka’at. Ia shalat zhuhur, ‘ashar dan ‘isya’ dua rakaat – dua rakaat, selama ia dalam perjalanan, selama ia tidak bermukim lebih dari empat hari.

Itulah 17 tata cara shalat bagi orang sakit yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang di ringkas di kitab Al-Mabhatsus Saadisuwal ‘Isyruun : Shalaatul Mariidh ( Juz-un min Shalaatil Mu’min ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *