Jejak Kerajaan Misterius Di Pulau Sumatera





Farhan21.com – Setelah kerajaan Sriwijaya tak lagi disebut-sebut dalam sumber luar negeri maupun prasasti lokal pada abad ke-14, kerajaan itu telah bergeser ke pedalaman di hulu Sungai Batang Hari di mana raja Adityawarman meninggalkan arca dan prasasti dari tahun 1347. Setidaknya ada tiga kerajaan yang muncul semenjak nama San-fo-tsi itu tak lagi terkenal, yaitu Kerajaan Dharmaçraya, Palembang, dan Minangkabau.



Menurut sejarawan Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, Kerajaan Minangkabau didirikan oleh Adityawarman setelah berangkat ke Sumatra pada tahun 1339. Sebelumnya, sebagaimana disebut Prasasti Manjusri (1341 M) di Candi Jago, ia telah menaklukkan Bali bersama Gajah Mada.



Kerajaan Misterius Di Pulau Sumatera

Jika kita telusuri lebih dalam lagi, Adityawarman adalah putra Majapahit, yang merupakan keturunan Melayu. Ia memiliki silsilah dari Mahamantri Adwayawarman. Sedangkan darah Melayunya berasal dari Dara Jingga, putri Kerajaan Dharmaçraya. Namun, Adityawarman tidak berhasil menjadi raja di Dharmaçraya, karena di sana sudah ada raja keturunan Tribuwanaraja Mauliwarmadewa.

“Adityawarman lalu mendirikan kerajaan baru di Pagaruyung,” ungkap Slamet.

Dari beberapa prasasti yang ditemukan di daerah Minangkabau, dapat diketahui pada pertengahan abad ke-14 ada raja yang memerintah di Kanakamedinindra (raja pulau emas). Namanya adalah Adityawarman.

Baca Juga : Potret Jadul Jenderal Sudirman Yang Bikin Bangga

Kerajaan Misterius Di Pulau Sumatera

Pada tahun 1347, setelah kekuasaannya meluas sampai Pagaruyung, Minangkabau, Adityawarman mengangkat dirinya menjadi maharajadhiraja dengan gelar Udayadityawarman atau Adityawarmodaya Pratapaparakramarajendra Maulimaliwarmadewa.

Sebelum Adityawarman datang, telah ada dua kerajaan yang berdiri disitu yaitu kerajaan Dharmaçraya dan kerajaan Palembang sebagai pelanjut kerajaan Melayu dan Sriwijaya. Bukti Keberadaan kerajaan itu diperkuat dengan catatan dari Dinasti Ming. Kronik ini membedakan kerajaan Melayu dan San-fo-tsi (Sriwijaya).

“Yang dimaksud dengan Kerajaan Melayu adalah kerajaan di daerah Jambi. Pusatnya di Dharmaçraya. San-fo-tsi ada di Palembang bekas Sriwijaya,” ungkap Slamet.

Sejarawan Anthony Reid dalam Sumatra Tempo Doeloe berpendapat, kemungkinan kerajaan Budha Raja Adityawarman membuka jalan bagi kehadiran tradisi kekuasaan raja di Sumatra Barat bagian tengah. “Tradisi itu hidup berdampingan tetapi kurang harmonis dengan masyarakat Minangkabau yang matrilineal dan pluralistik,” tulisnya.

Sekira tiga abad setelah masa kekuasaan Adityawarman, raja-raja Minangkabau di Pagaruyung dikenal punya kharisma kuat bagi masyarakat pesisir pulau Sumatra. Sejak tahun 1660-an perwakilan Belanda di pantai barat Sumatra pun sudah mulai berurusan dengan raja-raja itu, di sebuah tempat yang disebut “Negeri”.

“Sementara Belanda yang menguasai Melaka untuk VOC setelah 1641 mengetahui, meski samar tentang penguasa Minangkabau di tempat yang mereka sebut Pagaruyung,” ungkap Reid.

Kerajaan Misterius Di Pulau Sumatera

Thomas Diaz dari VOC adalah salah satunya. Setelah diutus Gubernur Belanda di Melaka, Cornelis van Quelbergh, pada 1683 ia pergi ke hulu Sungai Siak untuk menjalin hubungan dengan Raja Minangkabau. Namun, deskripsi Diaz tentang Pagaruyung tak sesuai dengan lokasi Pagaruyung modern di Sungai Selo, Tanah Datar. Sementara Pagaruyung yang dideskripsikan Diaz terletak jauh ke timur di Sungai Sinaman, antara wilayah Buo dan Kumanis.

“Kemungkinan nama Pagaruyung dipindahkan ke lokasi sekarang, sekira akhir abad ke-17, sebagai persaingan kekuasaan yang dulu terjadi antara beberapa cabang kerajaan,” tulis Reid. Dalam jurnal perjalanannya itu, Diaz menerangkan banyak bahaya yang harus ia lewati. Diaz harus melewati hutan belantara, gunung terjal, rawa-rawa, dan tumbuhan berduri untuk sampai di istana raja.





Leave a Comment

x