Penjelasan Lengkap Tentang Hadits

By | 20 April 2019

Farhan21.comHadits secara harfiah berarti ” berbicara”, “perkataan” atau “percakapan”.

Menurut istilah ulama, hadits adalah apa – apa yang diriwayatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, sifat jasmani atau  sifat akhlak, perjalanan setelah diangkat sebagai Nabi dan terkadang juga sebelumnya.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hadits adalah perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan, dan persetujuan dari Rasulullah yang dijadikan landasan syariat Islam. Hadits dijadikan sumber hukum kedua dalam Islam setelah Al-Qur’an.

Struktur hadits

Secara struktur, hadits terdiri atas dua komponen utama, yakni sanad dan matan.

Sanad adalah rantai penutur/rawi (periwayat) hadits.
Rawi adalah masing – masing orang yang menyampaikan hadits tersebut. Contoh : Bukhari, Musaddad, Yahya, Syu’bah, Qatadah, dan Anas.

Orang yang mencatat hadits tersebut dalam kitab hadits disebut mudawwin atau mukharrij.

Sanad merupakan rangkaian seluruh penutur hadits, mulai dari mudawwin hingga mencapai Rasulullah.
Sanad memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. Dari penjelesan tersebut, maka sanad hadits contohnya :

Al-Bukhari –> Musaddad –> Yahya –> Syu’bah –> Qatadah –> Anas –> Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/rawi yang bervariasi dalam lapisan sanad-nya. Sementara, matan adalah redaksi/lafal dari hadits yang disampaikan oleh perawi sampai dengan Rasulullah.

Yang perlu dicermati dalam memahami matan suatu hadits ialah :

  • Ujung sanad sebagai sumber redaksi, harus berujung pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.
  • Matan hadits itu sendiri, dalam hubungannya dengan hadits lain yang lebih kuat sanad-nya (apakah ada yang melemahkan atau menguatkan) dan selanjutnya dengan ayat dalam Al-Qur’an (apakah ada yang bertolak belakang).

Klasifikasi hadits

Ada empat tingkat klasifikasi penting dalam penerimaan atau penolakan terhadap suatu hadits, yaitu :

1. Hadits Sahih, yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits.

Syarat-syaratnya antara lain :

  • Sanad tidak terputus.
  • Diriwayatkan oleh para penutur/rawi yang adil, istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga kehormatannya, dan kuat ingatannya.
  • Pada saat menerima hadits, masing-masing rawi telah cukup umur (baligh) dan beragama islam.
  • Matan-nya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yang mencacatkan hadits.

2. Hadits Hasan , bila hadits yang tersebut sanad-nya bersambung, namun ada sedikit kelemahan pada rawi-nya. Misalnya diriwatkan oleh rawi yang adil namun tidak sempurna ingatannya, namun matan-nya tidak cacat. Atau tidak memenuhi salah satu syarat hadits sahih.

3. Hadits Dhaif (lemah), ialah hadits yang sanad-nya tidak bersambung, atau diriwayatkan oleh orang yang tidak adil/tidak kuat ingatannya, atau mengandung kejanggalan.

4. Hadits Maudhu bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam rantai sanad-nya dijumpai penutur yang dikenal pendusta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *